Kisah seorang Anak Ikan

Posted on

“Sst… itu dia Anak ikan.* kata seorang anak yang keluar dah kantin. Seketika itu pula mata-mata menatap padanya, Anak ikan.

“Wah, kayak ikan beneran nih. Jangan-jangan besok kalau punya anak, anaknya siripar tjnya sisik juga. Ha.ha.ha.. Dena, anak yang ter.enal biang gosip juga ikut campur. Dan seberang kantin, Anak ikan yang mendengar semua itu menangis dalam hati.

“Kamu itu nggak usah dengerin mereka. Toh, aku cari uang juga buat kamu. Buat sekolah sama hidup kamu. Memangnya temen-temen kamu yang bisanya ngomel itu mau nyekolahm kamu? Nggak to?” Gendis terdiam. “Apa kamu itu nggak pernah tak ajan bersyukur? Tiap han ngibadah kok nggak pernah bersyukur gimana ta?” Ibu Gendis yang baru memberesi barang-barang dapur terlihat sewot

Tapi Buk.”

“Ealah Ndis, nggak usah sekolah sekalian wae! Kamu ini bisanya ngomong, ngomong aja!” Percakapan itu selesai. Sang ibu meninggalkan anaknya yang termenung di dapur.

Gendis Payaulindhu namanya. Panggilannya Gendis. Gadis penang yang elok rupanya. Tapi teman-temannya memanggilnya Anak ikan. Ikan-ikan yang dicari kucing belang Ikan-ikan yang sering dijaring polisi nelayan. Sayangnya, ikan itu bukan ibu kandungnya. Ibu kandungnya membuangnya di emperan toko seperti sampah, lebih murah dari sambel ikan.

“Asalkan halal pekerjaannya, hasilnya juga ikut baik,” kata Guru Agama di kelas Gendis. “Lindu. kamu melamun terus ada apa?,” tanya Pak Guruyang sudah tidak betah melihat Gendis melamun

Duakk. aduh. Sebuah pukulan mendarat pelan di bahu Gendis.

“Ndis. dari tadi drtanyain sama Pak Guru diam aja!” tanya Panda.teman sebangkunya.

“Maaf, nggak apa-apa,” jawabnya singkat la kembali melamun.

“Udah, nggak usah dipikirin. Toh, ibuk kamu juga cuma pengen kamu berhasil. Nggak usah di-dengerin temen-temen yang ngomel itu,” bisik Panda.

Kenapa aku lahir, tetapi tak seharusnya lahir. Kenapa aku harusnya tak ada di dunia ini, tetapi aku ada. Siapakah yang salah? Haruskah aku menyalahkan semua?? Ataukah seseorang yang jauh di sana harus ku salahkan?

“Mbak Ndari. ibuk kemana?,” tanya Gendis ketika sudah sampai di rumah sepulang sekolah. Rumahnya ternyata kosong. Dia lantas bertanya pada Mbak Ndari. tetangganya.

“Nggak tau Ndis. tadi bawa tas gedhe gitu. Dia nggak bilang-bilang mau kemana.” Mbak Ndari yang sedang menyuapi anaknya ternyata juga tidak tahu apa-apa. Gendis masuk ke rumah dan terhenti di depan kamar ibunya. Lemari ibunya kosong tanpa selembar kainpun. Dari jauh hanya terlihat koran-koran bekas alas lemari.

Gendis terduduk lemas. Angin berhembus pelan dari jendela membelai rambut Gendis yang ikal sehingga menempel di wajahnya. Angin itu juga yang menerbangkan selembar kertas dari dalam rak lemari ibu. Kertas yang hanya bertuliskan, “Ndis, nek kamu malu sama aku. biar aku yang pergi. Walaupun aku bukan ibukrnu, bukan orang yang melahirkan kamu”. Kini kertasitu yang basah. Gendis terisak-isak. Di sela isaknya Gendis membulatkan sebuah tekad yang tidak seharusnya dia pikirkan.

Kelas kini hening tanpa kehadiran Gendis. Bangkunya masih kosong dari empat hari yang lalu. Dena juga hanya diam saja karena dia yang pertama kali disalahkan atas hilangnya Gendis. Rumah Gendis juga tidak terurus. Hilangnya Gendis ibarat hilangnya sebutir garam di genangan Lumpur dapur.

“Seorang PSK yang diketahui bernama Giyanti asal Desa Tumasri. ditemukan tewas di dekat warung koboi pasar. Diduga korban dibunuh karena berebut makan dengan tersangka. Hingga saat ini, tersangka masih buron.” suara pembawa acara mengheningkan keramaian di rumah Panda dan Dena. Mereka kaget bukan main ketika di televisi terpampang wajah ibu Gendis yang sudah kaku. Di perutnya terdapat luka tusukan. Seakan mimpi, Dena dan Panda menyebarkan berita itu hingga ke pelosok. Tapi Gendis Payaulindhu tidak juga muncul.

Inilah kisah gadis ikan, yang berenang ke sudut samudra. Ditelan ganasnya alam. Rasa luka terpendam dalamnya laut. Asa habis dirombak angin asin. Tapi gadis ikan kini telah mati di tangan pemangsa. Senja malam yang memeluknya. Menja-uhkannya dari padatan karang. Meski tak berharap bisa kembali ke pantai yang sunyi atau menjadi santapan berdosa.

Gadis itu berjalan terseok-seok. Tampilannya kusut dan bajunya tidak terurus. Matanya basah oleh airmata. Beberapa kali dia mengelap matanya yang basah dan sem-bab itu dengan lengannya. Lengan itu meninggalkan noda merah dan amis di wajah kuningnya yang kotor Darah. Dia terus berjalan. Kadang menangis, terisak, dan diam. Setelah sampai di tikungan jalan dia berhenti. Pelan-pelan dia membuka bungkusan tak berbentuk di tangannya. Sebungkus nasi basi dan sambal ikan. Kerakusan tampak dari raut wajahnya. Dan gadis itu tertawa sendiri. Ditatapnya nasi yang bau itu. Dan dia makan dengan tangannya yang basah kotor. Butir-butir nasi berjatuhan ke tanah. Wajahnya semakin memelas dan kembali menangis lalu menggu-mam, “Aku bukan anak ikan”

Ilustrasi ikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *