kakao Komoditas Unggulan yang Masih Diabaikan

Posted on

Kakao merupakan salah satu komoditas pertanian andalan dengan peranan penting dalam perekonomian Indonesia selain kelapa sawit, karet, kopi, teh, dan rempah-rempah. Namun, kakao tidak kunjung didukung industri pengolahan dan manajemen distribusi yang mumpuni agar bisa mendatangkan nilai tambah yang berlipat-lipat.

Oleh HERMAS E PRABOWO

Padahal, selain sebagai penghasil devisa negara, kakao menjadi sumber pendapatan petani, penciptaan lapangan kerja, mendorong tumbuhnya usaha agrobisnis dan agroindustri serta pengembangan wilayah. Potensi penyerapan tenaga kerja dari industri pengolahan juga terbuka lebar.

Pada tahun 2007, luas areal tanaman kakao di Indonesia 1.461.889 hektar (ha), yang terdiri atas 967.804 ha berstatus tanaman menghasilkan, 385.771 ha tanaman belum menghasilkan, dan 108.314 ha tanaman tidak menghasilkan atau rusak.

Perkebunan kakao di Indonesia didominasi perkebunan rakyat dengan porsi 92,34 persen, yang melibatkan petani sebanyak 1.4O0.636 kepala keluarga Nilai ekspor kakao tahun 2007 mencapai 950,6 juta dollar AS atau sekitar Rp 9,50 triliun, yang menempatkan kakao sebagai penghasil devisa terbesar untuk ekspor komoditas perkebunan setelah kelapa sawit dan karet.

Produksi kakao terbesar atau 63,3 persen berasal dari Sulawesi, meliputi Provinsi Sulawesi Tengah dengan luas tanamankakao 257.011 ha, Sulawesi Barat 156.88 ha, Sulawesi Tenggara 244.629 ha, dan Sulawesi Selatan 252.574 ha

Dari sisi potensi, peluang untuk mendapatkan nilai tambah dari produk kakao luar biasa besar. Namun, yang terjadi hingga saat ini, peluang itu belum digarap secara sungguh-sungguh. Dari dulu hingga saat ini Indonesia hanya bisa mengekspor biji kakao.

Barang konsumtif

Guru besar Sosial Ekonomi Pertanian dari Universitas Jember, Rudi Wibowo, mengungkapkan, ada persoalan besar dalam membangun industri kakao, mulai dari on farm hingga sistem distribusinya.

Pada tingkat on farm, produk kakao Indonesia banyak dikuasai kakao jenis bulk yang kualitasnya rendah. Adapun kakao surga atau idei masih relatif kecil. Kakao yang ada sekarang diproduksi oleh perkebunan kakao rakyat, yang kerap dipersoalkan kualitasnya

Meski begitu, saat ini produk kakao Indonesia masuk.empat besar di dunia. Keunggulan ini didukung oleh potensi besar karena produk-produk kakao pada barang-barang konsumsi terbentang lebar, mulai dari coke-lat, campuran susu, hingga produk lainnya.

Apabila dikemas dengan baik dengan mengedepankan pencitraan, seperti halnya produk kopi, kakao bisa dijadikan industri makanan yang konsumtif. Selain dari aspek kesehatan, produk kakao juga menyehatkan.

Sayangnya, saat ini pasar produk akhir kakao domestik tidak terlalu besar. Produk kakao seperti cokelat lebih banyak diminati di negara lain, seperti Eropa dan AS. Minimnya konsumsi kakao domestik tidak lain karena konsumsi kakao belum membudaya. Perlu upaya keras dan terus-menerus untuk menjadikan produk kakao melekat pada diri konsumen seperti halnya teh dan kopi.

Karena pasar kakao olahan lebih banyak di luar negeri, upaya membangun industri pengolahan kakao dan industri hilir kakao tentu akan menghadapi banyak tantangan. Belum lagi kalau dilihat saat ini, persoalan konsumsi bukan sekadar apa yang akan dimakan, tetapi bagaimana mampu mendekatkan produk kepada konsumen. Karena itu, perlu jaringan distribusi yang harus dikuasai.

Mendekati konsumen

Produk kakao yang bagus, tetapi akan sulit dikenal jika tanpa upaya keras untuk membangun distribusi yang mendekatkan kepada konsumen. Akibatnya meski produk bagus, tetap tidak terserap pasar. Industri pengolahan kakao di negara lain telah bersinergi sedemikian rupa guna membangun jaringan distribusi hingga ke negara lain.

“Perang demikian modern dalam manajemen distribusi dan pemasaran. Tidak bisa lagi berdiri sendiri. Ada peluang masuk ke pasar tradisional, tetapiaspek mutu kerap dipertanyakan. Kalau sampai terjadi keracunan, persoalan menjadi besar. Karena itu. hampir semua produk pangan masuk dalamkendali perusahaan multi nasional,” kata Rudi Wibowo.

Peluang membangun industri hilir dengan membidik pasar lokal dan ekspor memang besar, apalagi kita memiliki bahan bakunya “Namun, apakah kita cukup mampu untuk menahan semua itu,” katanya.

Ketua Badan Pertimbangan Organisasi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Siswono Yudo Husodo mengatakan, kondisi industri kakao di dalam negeri memang sangat mengenaskan.

Dari sisi kebijakan, justru itu mendorong pengusaha untuk merelokasi pabriknya dari Indonesia ke Malaysia Pabrik Petra Foods telah pindah ke Malaysia Penyebabnya, bea masuk kakao dari Indonesia dan Malaysia mendapat perlakuan yang berbeda oleh China

Kakao Malaysia dikenai bea masuk nol persen hingga 5 persen, sedangkan kakao Indonesia dikenai bea masuk 10 persen hingga 22 persen.

Pembeli kakao asal Eropa juga mulai beralih ke negara lain karena penurunan kualitas kakao Indonesia Pembeli mengenakan diskon harga dan juga meminta perlakuan khusus kakao asal Indonesia

Rudi mengatakan, semua itu tergantung dari bagaimana pemerintah bisa melihat peluang. Peluang tetap akan menjadi peluang kalau tidak ada dorongan pemerintah mengarah ke pembangunan industri hilir kakao.

Perlu ada upaya keras untuk “menggarap” konsumen agar tertarik dengan produk kakao lokal. Selain memberikan dukungan kepada industri dalam negeri dengan berbagai fasilitas.upaya memengaruhi konsumen juga harus mendapat dukungan dari pemerintah.

Keunggulan yang dimiliki bangsa kita adalah bahwa budaya masyarakat Indonesia paternalistik. Dengan ciri mengikuti apa yang dilakukan pemimpin. Dengan budaya ini, mudah bagi bangsa kita membangun industri hilir dan mendekatkan produk kakao dengan konsumen karena apa yang dikonsumsi pemimpin akan diikuti masyarakat.

Swasta jelas cerdas. Namun, untuk membangun pasar perlu dorongan dari BUMN agar lebih cepat sebagai agen perubahan. Semuanya kembali kepada pemerintah, apakah tetap akan menjadikan sektor pertanian sebagai sektor pendukung atau menjadi sektor unggulan yang memberi nilai tambah menciptakan kesejahteraan masyarakat

Bagaimanapun, untuk membangun industri kakao ke depan harus ada upaya perbaiki kualitas kakao. Karena itu, perlu peningkatan teknologi budidaya, selain melakukan penggantian tanaman yang rusak.

Itu saja tidak cukup. Untuk membangun industri kakao, perlu kemauan kuat dari pemerintah guna mendorong tumbuhnya industri hilir kakao. Sambil industri hilir ditumbuhkan, juga perlu dilakukan penataan manajemen distribusi produk kakao supaya lebih dekat kepada konsumen.

Tak lupa pula berbagai kebijakan bea masuk terhadap produk olahan berbahan baku kakao juga bisa diterapkan untuk percepatan industrialisasi kakao.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *